Pages

Jumat, 24 Mei 2013

Zat Adiktif Pada Makanan


Zat Aditif Pada Makanan

Setiap hari kita memerlukan makanan untuk mendapatkan energi (karbohidrat dan lemak) dan untuk pertumbuhan sel-sel baru, menggantikan sel-sel yang rusak (protein). Selain itu, kita juga memerlukan makanan sebagai sumber zat penunjang dan pengatur proses dalam tubuh, yaitu vitamin, mineral, dan air.

Sehat tidaknya suatu makanan tidak bergantung pada ukuran, bentuk, warna, kelezatan, aroma, atau kesegarannya, tetapi bergantung pada kandungan zat yang diperlukan oleh tubuh. Suatu makanan dikatakan sehat apabila mengandung satu macam atau lebih zat yang diperlukan oleh tubuh. Setiap hari, kita perlu mengonsumsi makanan yang beragam agar semua jenis zat yang diperlukan oleh tubuh terpenuhi. Hal ini dikarenakan belum tentu satu jenis makanan mengandung semua jenis zat yang diperlukan oleh tubuh setiap hari.
Supaya orang tertarik untuk memakan suatu makanan, seringkali kita perlu menambahkan bahan-bahan tambahan ke dalam makanan yang kita olah. Bisa kita perkirakan bahwa seseorang tentu tidak akan punya selera untuk memakan sayur sop yang tidak digarami atau bubur kacang hijau yang tidak memakai gula. Dalam hal ini, garam dan gula termasuk bahan tambahan. Keduanya termasuk jenis zat aditif makanan. Zat aditif bukan hanya garam dan gula saja, tetapi masih banyak bahan-bahan kimia lain.

Zat aditif makanan ditambahkan dan dicampurkan pada waktu pengolahan makanan untuk memperbaiki tampilan makanan, meningkatkan cita rasa, memperkaya kandungan gizi, menjaga makanan agar tidak cepat busuk, dan lain.

Bahan yang tergolong ke dalam zat aditif makanan harus dapat:

1. memperbaiki kualitas atau gizi makanan;
2. membuat makanan tampak lebih menarik;
3. meningkatkan cita rasa makanan; dan
4. membuat makanan menjadi lebih tahan lama atau tidak cepat basi dan busuk.

Zat-zat aditif tidak hanya zat-zat yang secara sengaja ditambahkan pada saat proses pengolahan makanan berlangsung, tetapi juga termasuk zat-zat yang masuk tanpa sengaja dan bercampur dengan makanan. Masuknya zat-zat aditif ini mungkin terjadi saat pengolahan, pengemasan, atau sudah terbawa oleh bahan-bahan kimia yang dipakai. Zat aditif makanan dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:

1. zat aditif yang berasal dari sumber alami, seperti lesitin dan asam sitrat;
2 zat aditif sintetik dari bahan kimia yang memiliki sifat serupa dengan bahan alami yang sejenis, baik susunan kimia maupun sifat/fungsinya, seperti amil asetat dan asam askorbat.
Berdasarkan fungsinya, baik alami maupun sintetik, zat aditif dapat dikelompokkan sebagai zat pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap rasa. Zat aditif dalam produk makanan biasanya dicantumkan pada kemasannya.


1. Zat Pewarna

Pemberian warna pada makanan umumnya bertujuan agar makanan terlihat lebih segar dan menarik sehingga menimbulkan selera orang untuk memakannya. Zat pewarna yang biasa digunakan sebagai zat aditif pada makanan adalah:
a. Zat pewarna alami, dibuat dari ekstrak bagian-bagian tumbuhan tertentu, misalnya warna hijau dari daun pandan atau daun suji, warna kuning dari kunyit, warna cokelat dari buah cokelat, warna merah dari daun jati, dan warna kuning merah dari wortel. Karena jumlah pilihan warna dari zat pewarna alami terbatas maka dilakukan upaya menyintesis zat pewarna yang cocok untuk makanan dari bahan-bahan kimia.
b. Zat pewarna sintetik, dibuat dari bahan-bahan kimia.
Dibandingkan dengan pewarna alami, pewarna sintetik memiliki beberapa kelebihan, yaitu memiliki pilihan warna yang lebih banyak, mudah disimpan, dan lebih tahan lama.
Beberapa zat pewarna sintetik bisa saja memberikan warna yang sama, namun belum tentu semua zat pewarna tersebut cocok dipakai sebagai zat aditif pada makanan dan minuman. Perlu diketahui bahwa zat pewarna sintetik yang bukan untuk makanan dan minuman (pewarna tekstil) dapat membahayakan kesehatan apabila masuk ke dalam tubuh karena bersifat karsinogen (penyebab penyakit kanker). Oleh karena itu, kamu harus berhati-hati ketika membeli makanan atau minuman yang memakai zat warna. Kamu harus yakin dahulu bahwa zat pewarna yang dipakai sebagai zat aditif pada makanan atau minuman tersebut adalah memang benar-benar pewarna makanan dan minuman.

Berdasarkan sifat kelarutannya, zat pewarna makanan dikelompokkan menjadi dye dan lake. Dye merupakan zat pewarna makanan yang umumnya bersifat larut dalam air. Dye biasanya dijual di pasaran dalam bentuk serbuk, butiran, pasta atau cairan. Lake merupakan gabungan antara zat warna dye dan basa yang dilapisi oleh suatu zat tertentu. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air maka zat warna kelompok ini cocok untuk mewarnai produkproduk yang tidak boleh terkena air atau produk yang mengandung lemak dan minyak.

2. Zat Pemanis

Zat pemanis berfungsi untuk menambah rasa manis pada
makanan dan minuman. Zat pemanis dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
a. Zat pemanis alami. Pemanis ini dapat diperoleh dari tumbuhan, seperti kelapa, tebu, dan aren. Selain itu, zat pemanis alami dapat pula diperoleh dari buahbuahan dan madu. Zat pemanis alami berfungsi juga sebagai sumber energi. Jika kita mengonsumsi pemanis alami secara berlebihan, kita akan mengalami risiko kegemukan. Orang-orang yang sudah gemuk badannya sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang mengandung pemanis alami terlalu tinggi.

b. Zat pemanis buatan atau sintetik. Pemanis buatan tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia sehingga tidak berfungsi sebagai sumber energi. Oleh karena itu, orangorang yang memiliki penyakit kencing manis (diabetes melitus) biasanya mengonsumsi pemanis sintetik sebagai pengganti pemanis alami. Contoh pemanis sintetik, yaitu sakarin, natrium siklamat, magnesium siklamat, kalsium siklamat, aspartam dan dulsin. Pemanis buatan memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi dibandingkan pemanis alami. Garamgaram siklamat memiliki kemanisan 30 kali lebih tinggi dibandingkan kemanisan sukrosa. Namun, kemanisan garam natrium dan kalsium dari sakarin memiliki kemanisan 800 kali dibandingkan dengan kemanisan sukrosa 10%.

Walaupun pemanis buatan memiliki kelebihan dibandingkan pemanis alami, kita perlu menghindari konsumsi yang berlebihan karena dapat memberikan efek samping bagi kesehatan. Misalnya, penggunaan sakarin yang berlebihan selain akan menyebabkan rasa makanan terasa pahit juga merangsang terjadinya tumor pada bagian kandung kemih. Contoh lain, garam-garam siklamat pada proses metabolisme dalam tubuh dapat menghasilkan senyawa sikloheksamina yang bersifat karsinogenik (senyawa yang dapat menimbulkan penyakit kanker). Garam siklamat juga dapat memberikan efek samping berupa gangguan pada sistem pencernaan terutama pada pembentukan zat dalam sel.

3. Zat Pengawet

Ada sejumlah cara menjaga agar makanan dan minuman tetap layak untuk dimakan atau diminum walaupun sudah tersimpan lama. Salah satu upaya tersebut adalah dengan cara menambahkan zat aditif kelompok pengawet (zat pengawet) ke dalam makanan dan minuman. Zat pengawet adalah zatzat yang sengaja ditambahkan pada bahan makanan dan minuman agar makanan dan minuman tersebut tetap segar, bau dan rasanya tidak berubah, atau melindungi makanan dari kerusakan akibat membusuk atau terkena bakteri/ jamur. Karena penambahan zat aditif, berbagai makanan dan minuman masih dapat dikonsumsi sampai jangka waktu tertentu, mungkin seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan beberapa tahun. Dalam makanan atau minuman yang dikemas dan dijual di toko-toko atau supermarket biasanya tercantum tanggal kadaluarsanya, tanggal yang menunjukkan sampai kapan makanan atau minuman tersebut masih dapat dikonsumsi tanpa membahayakan kesehatan.
Seperti halnya zat pewarna dan pemanis, zat pengawet dapat dikelompokkan menjadi zat pengawet alami dan zat pengawet buatan.
Zat pengawet alami berasal dari alam, contohnya gula (sukrosa) yang dapat dipakai untuk mengawetkan buah-buahan (manisan) dan garam dapur yang dapat digunakan untuk mengawetkan ikan.

a. Zat pengawet sintetik atau buatan merupakan hasil sintesis dari bahan-bahan kimia. Contohnya, asam cuka dapat dipakai sebagai pengawet acar dan natrium propionat atau kalsium propionat dipakai untuk mengawetkan roti dan kue kering. Garam natrium benzoat, asam sitrat, dan asam tartrat juga biasa dipakai untuk mengawetkan makanan. Selain zat-zat tersebut, ada juga zat pengawet lain, yaitu natrium nitrat atau sendawa (NaNO3) yang berfungsi untuk menjaga agar tampilan daging tetap merah. Asam fosfat yang biasa ditambahkan pada beberapa minuman penyegar juga termasuk zat pengawet.

Selain pengawet yang aman untuk dikonsumsi, juga terdapat pengawet yang tidak boleh dipergunakan untuk mengawetkan makanan. Zat pengawet yang dimaksud, di antaranya formalin yang biasa dipakai untuk mengawetkan benda-benda, seperti mayat atau binatang yang sudah mati. Pemakaian pengawet formalin untuk mengawetkan makanan, seperti bakso, ikan asin, tahu, dan makanan jenis lainnya dapat menimbulkan risiko kesehatan. Selain formalin, ada juga pengawet yang tidak boleh dipergunakan
untuk mengawetkan makanan. Pengawet yang dimaksud adalah pengawet boraks. Pengawet ini bersifat desinfektan atau efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba penyebab membusuknya makanan serta dapat memperbaiki tekstur makanan sehingga lebih kenyal. Boraks hanya boleh dipergunakan untuk industri nonpangan, seperti dalam pembuatan gelas, industri kertas, pengawet kayu, dan keramik. Jika boraks termakan dalam kadar tertentu, dapat menimbulkan sejumlah efek samping bagi kesehatan, di antaranya:
a. gangguan pada sistem saraf, ginjal, hati, dan kulit;
b. gejala pendarahan di lambung dan gangguan stimulasi saraf pusat;
c. terjadinya komplikasi pada otak dan hati; dan
d. menyebabkan kematian jika ginjal mengandung boraks sebanyak 3–6 gram.
Walaupun tersedia zat pengawet sintetik yang digunakan sebagai zat aditif makanan, di negara maju banyak orang enggan mengonsumsi makanan yang memakai pengawet sintetik. Hal ini telah mendorong perkembangan ilmu dan teknologi pengawetan makanan dan minuman tanpa penambahan zat-zat kimia, misalnya dengan menggunakan sinar ultra violet (UV), ozon, atau pemanasan pada suhu yang sangat tinggi dalam waktu singkat sehingga makanan dapat disterilkan tanpa merusak kualitas makanan.


4. Zat Penyedap Cita Rasa

Di Indonesia terdapat begitu banyak ragam rempahrempah yang dipakai untuk meningkatkan cita rasa makanan, seperti cengkeh, pala, merica, ketumbar, cabai, laos, kunyit, bawang, dan masih banyak lagi yang lain. Melimpahnya ragam rempah-rempah ini merupakan salah satu sebab yang mendorong penjajah Belanda dan Portugis tempo dulu ingin menguasai Indonesia. Jika rempah-rempah dicampur dengan makanan saat diolah, dapat menimbulkan cita rasa tertentu pada makanan.
Selain zat penyedap cita rasa yang berasal dari alam, ada pula yang berasal dari hasil sintesis bahan kimia. Berikut ini beberapa contoh zat penyedap cita rasa hasil sintesis:

a. oktil asetat, makanan akan terasa dan beraroma seperti buah jeruk jika dicampur dengan zat penyedap ini;
b. etil butirat, akan memberikan rasa dan aroma seperti buah nanas pada makanan;
c. amil asetat, akan memberikan rasa dan aroma seperti buah pisang;
d. amil valerat, jika makanan diberi zat penyedap ini maka akan terasa dan beraroma seperti buah apel.
Selain zat penyedap rasa dan aroma, seperti yang sudah disebutkan di atas, terdapat pula zat penyedap rasa yang penggunaannya meluas dalam berbagai jenis masakan, yaitu penyedap rasa monosodium glutamat (MSG). Zat ini tidak berasa, tetapi jika sudah ditambahkan pada makanan maka akan menghasilkan rasa yang sedap. Penggunaan MSG yang berlebihan telah menyebabkan “Chinese restaurant syndrome” yaitu suatu gangguan kesehatan di mana kepala terasa pusing dan berdenyut. Bagi yang menyukai zat penyedap ini tak perlu khawatir dulu. Kecurigaan ini masih bersifat pro dan kontra. Bagi yang mencoba menghindari untuk mengonsumsinya, sudah tersedia sejumlah merk makanan yang mencantumkan label “tidak mengandung MSG” dalam kemasannya.
Pada pembahasan sebelumnya, kamu sudah mempelajari tentang pengelompokan zat aditif berdasarkan fungsinya beserta contoh-contohnya. Perlu kamu ketahui bahwa suatu zat aditif dapat saja memiliki lebih dari satu fungsi.
Seringkali suatu zat aditif, khususnya yang bersifat alami memiliki lebih dari satu fungsi. Contohnya, gula alami biasa dipakai sebagai zat aditif pada pembuatan daging dendeng. Gula alami tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berfungsi sebagai pengawet. Contoh lain adalah daun pandan yang dapat berfungsi sebagai pemberi warna pada makanan sekaligus memberikan rasa dan aroma khas pada makanan.

Untuk penggunaan zat-zat aditif alami, umumnya tidak terdapat batasan mengenai jumlah yang boleh dikonsumsi perharinya. Untuk zat-zat aditif sintetik, terdapat aturan penggunaannya yang telah ditetapkan sesuai Acceptable Daily Intake (ADI) atau jumlah konsumsi zat aditif selama sehari yang diperbolehkan dan aman bagi kesehatan. Jika kita mengonsumsinya melebihi ambang batas maka dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Jika kita mengidentifikasi zat aditif yang dipakai dalam makanan/minuman, lihatlah kemasan pada makanan/minuman tersebut.

No.
Nama Bahan Kimia
Alami
Buatan
Keterangan

1.      Pewarna







1.      Kunyit = Kuning
2.      Daun Suji = Hijau
3.      Wortel = Oranye
4.      Cabai = Merah
5.      Kelapa = Coklat
6.      Bunga Telang = Biru Keunguan
7.      Angkak = Merah
8.      Kayu Secang = Merah
9.      Merang = Hitam
10.  Buah Bit = Merah Tua
11.  Buah Kakao = Cokelat
12.  Keluak = Cokelat Kehitaman
13.  Bayam = Hijau
14.  Buah Alpukat = Hijau
15.  Rasberry = Merah Muda
16.  Stroberry = Merah Muda
17.  Blueberry = Biru Violet
18.  Anato = Oranye
19.  Karamel = Coklat
1.      Carmoisine =  Merah
2.      Amaranth =  Merah
3.      Erythrosine = Merah
4.      Sunset yellow FCF = Oranye
5.      Tartrazin = Kuning
6.      Quineline yallow = Kuning
7.      Fast green FCF = Hijau
8.      Briliant Blue FCF = Biru
9.      Indigocarmine (indigotine) = Biru
10.  Violet GB = Ungu
11.  Rhodamin B = Merah
12.  Methanil Yellow = Kuning
13.  Malachite Green = Hijau
14.  Fast Red E = merah
15.  Ponceau 4R = Merah

2.      Pemanis





1.      Tebu
2.      Kelapa
3.      Aren
4.      Kulit Kayu Manis
5.      Nektar Agave
6.      Tetes
7.      Fruktosa
8.      Madu
9.      Gula Gandum
10.  Stevia
11.  Gula Kurma
12.  Ekstrak jus Buah
13.  Gula Pohon Maple
14.  Gula Turbinado
15.  Sucanat
16.  Buah Ara
17.  Plum Kering
18.  Sirup Beras Merah
1.      Sakarin
2.      Natrium Siklamat
3.      Kalsium Siklamat
4.      Gliserol
5.      Aspartam
6.      Sorbitol
7.      Asesulfam K
8.      Sucralose
9.      Neotame
10.  Xylitol
11.  Erithol
12.  Laktisol
13.  Maltitol
14.  Manitol
15.  Dulsin


3.      Penyedap


1.      Cengkeh
2.      Pala
3.      Merica
4.      Cabai
5.      Laos
6.      Kunyit
7.      Ketumbar
8.      Gula
9.      Lada
10.  Lengkuas
11.  Seledri
12.  Jahe
13.  Bawang Merah
14.  Bawang Putih
15.  Asam Jawa
16.  Tomat
17.  Terasi
18.  Garam
19.  Biji Pala
20.  Kayu Manis
1.      MSG
2.      Vetsin
3.      Amil Valerat
4.      Amil Asetat
5.      Oktil Asetat
6.      Etil Butirat
7.      Metil Antranilat
8.      Benzaldehida
9.      Asam Cuka
10.  Isoamil Asetat
11.  Isoamil Valerat
12.  Butil Butirat
13.  Isobutil Propionat



4.      Pengawet
1.      Dikeringan
2.      Dimaniskan
3.      Diasinkan
4.      Dasamkan
5.      Didinginkan
6.      Dikalengkan
7.      Dihangatkan
8.      Dipanaskan
1.      Boraks
2.      Formalin
3.      Sulfur Dioksida
4.      Kalium Nitrit
5.      Natrium Propionat
6.      Kalsium Propionat
7.      Kalium Asetat
8.      Asam Scorbat
9.      Asam Asetat
10.  Asam Benzoat
11.  Asam Propionat
12.  Natrium Nitrit
13.  Natrium Nitrat
14.  Natammysin
15.  Sulfur Dioksida
16.  Natrium Metasulfat




Pertanyaan
1.      Jelaskan efek samping dari bahaya kimia buatan pewarna, pemanis, penyedap, pengawet terhadap tubuh manusia !
2.      Apakah keuntungan menggunakan bahan kimia alami dan buatan pada makanan!
3.      Kesimpulan !

Jawaban
1.      a,) Pewarna      : Alergi, asma, tumor, kanker, muntah muntah, gangguan pencernaan

b.) Pemanis      : Tumor kantung kemih,  radang tenggorokan, batuk, nyeri telan,                             kegemukan, gatal-gatal, kejang otot, mati rasa, sakit kepala, sakit persendian, zat gizi sedikit

c.) Penyedap    : Pusing, mual,

d.) Pengawet    : Gangguan lambung, muntah

2.      Keuntungan Pewarna
-        Alami         : Sehat, aman di komsumsi, Tidak mempunyai efek samping
-        Buatan       : Pilihan warna yang lebih banyak, mudah disimpan, lebih tahan lama, murah, warna nya lebih bagus dari pewarna alami
Kerugian Pewarna
-        Alami         : Harga lebih mahal, warna tidak sebagus pewarna buatan, ketersediaanya  terbatas
-        Buatan       : Menyebabkan Kanker, alergi, asma, tumor,  muntah muntah, gangguan pencernaan, anemia, kerusakan kromosom

Keuntungan Pemanis
-        Alami        : Sehat, mengandung zat gizi, Tidak mempunyai efek samping
-        Buatan      : Harga murah, beranfaat bagi penderita diabetes mellitus, mudah didapatkan
Kerugian Pemanis
-        Alami         : Harga lebih mahal, ketersediaanya  terbatas
-        Buatan       : Kandungan zat gizi sedikit, jika dikomsumsi berlebihan menyebabkan Tumor kantung kemih,  radang tenggorokan, batuk, nyeri telan, kegemukan, gatal-gatal, kejang otot, mati rasa, sakit kepala, sakit persendian, kegemukan
Keuntungan Penyedap
-        Alami        : Sehat, tidak mempunyai efek samping, aman di komsumsi
-        Buatan      : Murah, memberikan, menambah, mempertegas rasa dan aroma makanan, mudah didapatkan
 Kerugian Penyedap
-        Alami         : Mahal, ketersediaanya  terbatas
-        Buatan       : Menyebabkan pusing, mual, kelainan hati, trauma, Hipertensi, Stress, Demam tinggi, Mempercepat proses penuaan, Alergi kulit, Mual, Muntah, Migren, Asma, Ketidakmampuan belajar, Depresi.
Keuntungan Pengawet
-        Alami         : Sehat, tidak mempunyai efek samping, aman di komsumsi
-        Buatan       : Murah, mudah didapatkan
Kekurangan Pengawet
-        Alami         : Mahal, ketersediaannya terbatas
-        Buatan       : Menyebabkan Gangguan lambung, muntah, penyakit jantung, tidak nafsu makan, diare, alergi, sakit kepala, anemia, radang ginjal

      3.      Kita boleh memakan zat aditif buatan pada makanan asalkan kita tidak menkomsumsinya berlebihan, kalau berlebihan bisa mengakibatkan hal – hal yang negative. Kita lebih baik memakan zat aditif alami daripada buatan, tentu zat aditif alami lebih sehat dan tidak mengandung efek samping.  Selain itu kita juga harus mengatur pola makan yang benar agar selalu sehat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar